Beranda » Artikel Islam » Penggunaan Jimat Atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab 9

Penggunaan Jimat Atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab 9

T Diposting oleh pada 10 April 2017
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 453 kali

Perhatikanlah, bagaimana sikap sosok sahabat Ahli Tafsir, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang sama dengan sikap Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ketika mendapatkan orang yang memakai jimat!

jimat-pelet

Di dalam kitab At-Tauhid alladzi huwa haqqullahi ‘alal ‘abid disebutkan:

“Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ia melihat seorang laki-laki yang di tangannya terdapat (jimat dari) benang untuk (mengobati atau menangkal) penyakit demam, maka dia putuskan benang itu seraya membaca firman Allah Ta’ala:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ

Dan sebahagian besar dari mereka tidaklah beriman kepada Allah melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan selain-Nya). (QS. Yusuf:106)”.

Atsar ini shahih dengan menggabungkan seluruh jalan-jalan periwayatannya1.

Perhatikanlah, bagaimana pemahaman dan sikap sosok Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang pernah diutus oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi seorang da’i ini!

1. Pemahaman beliau

Dalam mengingkari pemakai jimat tersebut, beliau membawakan ayat ini, padahal sesungguhnya ayat ini untuk membantah pelaku syirik akbar, hal ini menunjukkan bahwa beliau memahami perbuatan memakai jimat itu sebagai bentuk kesyirikan, walaupun kesyirikan pemakai jimat itu secara tingkatan hanyalah sebatas syirik kecil saja.

Faedah : Membantah syirik kecil dengan membawakan ayat yang membantah pelaku syirik akbar adalah sebuah metode pendalilan yang sah, karena kandungan ayat itu sifatnya menyeluruh dan karena masuknya perbuatan jenis syirik kecil kedalam kelompok dosa syirik.

2. Sikap beliau

Beliau mengingkari pemakai jimat tersebut, tanpa menanyakan apakah penggunanya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak!

Pengingkaran Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu terhadap pemakai jimat, tanpa menanyakan apakah pemakainya berkeyakinan jimat itu sebagai sebab saja atau tidak!

Dari Qois bin As-Sakan Al-Asadi radhiyallahu ‘anhu berkata: (Suatu saat) Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bertemu dengan seorang wanita, beliau melihat pada diri wanita tersebut terdapat (jimat) manik-manik karena penyakit humroh2, lalu beliaupun memutuskannya dengan tarikan yang kuat. Kemudian beliau berkata:

“Sesungguhnya keluarga Abdullah anti syirik!”

Beliau mengatakan pula :

“Termasuk perkara yang kami hafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah

إِنَّ الرُّقَى و التّمَائِمَ والتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya (menggunakan) ruqyah (yang mengandung kesyirikan), tamimah3 dan tiwalah4 adalah syirik!“”5.

Perhatikanlah, bagaimana sikap sosok sahabat Ahli Tafsir, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang sama dengan sikap Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ketika mendapatkan orang yang memakai jimat tersebut!

Karena memang keduanya mendapatkan pemahaman tentang hakekat syirik langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam!

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya telah mencontohkan bagaimana mengingkari pemakai jimat tersebut!

Renungkanlah!

Dalam atsar ini, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam memahami hadits :

إِنَّ الرُّقَى و التّمَائِمَ والتِّوَلَةَ شِرْكٌ

“Sesungguhnya ruqyah (yang mengandung kesyirikan), (menggunakan) tamimah dan tiwalah adalah syirik!”’, beliau tidaklah menyimpulkan bahwa jika si pemakai berkeyakinan jimat itu sekedar sebagai sebab saja, maka hukumnya boleh!

Buktinya, beliau mengingkari pelakunya tanpa menanyakan hal itu!

Sosok tabi’in yang mulia Abdullah bin Ukaim rahimahullah menolak menggantungkan jimat padahal beliau sedang sakit!
Dari Isa, ia berkata: “Saya pernah datang menengok Abdullah bin Ukaim (berkunyah) Abu Ma’bad Al-Juhani, ia sedang terkena penyakit humrah.

Kami bertanya: “Tidakkah anda menggantungkan jimat ?”. Ia menjawab: “Kematian lebih dekat dari hal itu!”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa yang menggantungkan sesuatu, maka urusannya akan diserahkan kepadanya!”

(Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 2072, Ahmad 3/411, Ibnu Abi Syaibah 7/371 (12/39-4) no. 23923, Al-Haakim 4/216, dan yang lainnya; hasan lighairihi)6.

Perhatikanlah bagaimana sabar dan tawakalnya sosok tabi’in yang mulia Abdullah bin Ukaim rahimahullah ketika menolak menggantungkan jimat padahal beliau sedang sakit!

Dan bandingkanlah dengan keadaan para pemakai jimat pada zaman sekarang!

(Bersambung, in sya Allah)

Sumber: https://muslim.or.id/29048-penggunaan-jimat-atau-rajah-tetap-syirik-walau-berkeyakinan-sekedar-sebab-9.html

Tags: ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Belum ada Komentar untuk Penggunaan Jimat Atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab 9

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

a Artikel Terkait Penggunaan Jimat Atau Rajah Tetap Syirik, Walau Berkeyakinan Sekedar Sebab 9

Kebodohan Bukan Untuk Di Tertawakan

T 11 April 2017 F A ahmad

Kalau ada orang yang “bodoh”, seharusnya diajari atau dibenarkan. Bukan malah dijadikan bahan tertawaan atau olok-olok saja. Jika tidak demikian, maka apa bedanya kita sama orang bodoh yang kita olok-olok tersebut? Kalau ada orang yang “bodoh”, seharusnya diajari atau dibenarkan.... Selengkapnya

Cara Dahsyat Meningkatkan Keimanan 2

T 11 April 2017 F A ahmad

sesungguhnya di antara faktor paling besar yang menyebabkan meningkatnya keimanan kita adalah membaca Al-Qur`an dan Al-Qur`an Al-Karim adalah Petunjuk, Rahmat, Cahaya, Kabar Gembira, dan Peringatan Sobat, sesungguhnya di antara faktor paling besar yang menyebabkan meningkatnya keimanan kita adalah membaca Al-Qur`an... Selengkapnya

Bunuh Diri Bukan Mengakhiri Kehidupan

T 11 April 2017 F A ahmad

Orang yang bunuh diri sesungguhnya berpikiran pendek dan dangkal dengan beranggapan bahwa jika ia mati maka berakhirlah semuanya. Justru kehidupan setelah kematian itu adalah kehidupan sesungguhnya yang lebih kekal lebih berat. Ketika menghadapi cobaan hidup, sebagian orang mengambil “jalan pintas”... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi staff kami untuk mendapatkan informasi yang lebih rinci mengenai Rabbaanii Boarding School

TK,SD,SMP,SMK Islam Boarding School

Jl. Cimandiri 8 B RT 06/02 Graha Asri 17550 Jatireja, Cikarang Timur – Bekasi

Kontak Kami

Call Center : (021) 29089400
Sms/WA : 0856 8903 937
(Amrul Tauhid) Bag. SDIT
Sms/WA : 0815 7109 452
(Azis Yanuar) Bag. SMPI
Sms/WA : 0838 9989 9334
(Ahmad Suryadi) Bag. SMKI
Facebook : www.facebook.com/SmkRabbaaniiIslamicSchool
Email : info@rbs.sch.id
Web : rbs.sch.id

Tentang Kami

SMPI Rabbaanii berdiri pada tahun 2014 dibawah naungan Yayasan Rabbaanii Islamic School, dan sudah terdaftar di kementrian Pendidikan & Kebudayaan Republik Indonesia